Rabu, 20 Agustus 2008

Aku, Diriku, Hanya Aku....


Ada yang bilang, aku sosok yang sombong, uhh..tau apa sih mereka tentang aku! Ada juga yang bilang, wajahku seperti orang judes, wah yang ini kebangetan banget. Padahal seumur-umur, hal yang paling aku takuti adalah menyakiti hati orang. Andai saja mereka mau sedikit memahami dan belajar, bahwa tampilan luar tidak akan pernah sama dengan tampilan didalam. Lebih baik jangan sok tau, kalau benar-benar tak pernah mau tahu!!!!


Foto Bersama sahabat-sahabat Kantor...rekan-rekan kerja berjiwa muda...Semangat!!!



Ama Ratna Mahendra..my best friend di kantor dan diruang khusus hua..haha..haha..tanya Ratna..masak sih aku dibilang sombong say...


Menanti Bintang Jatuh or jodoh yang gak sengaja jatuh dari langit...



Nih dia yang namanya Dara Fitria...ehmmmmm...aku nulis khusus aja buat dia..gak cukup disini....maaf..


Waktu di Bandung nih...nyuri waktu ''narsis-narsisan'' diwaktu liputan bareng Gubernur Riau HM Rusli Zainal. Acara Satu Abad Kebangkitan Nasional di Kementrian Pemuda Dan Olahraga Jakarta...




Baca Selengkapnya->

Selasa, 19 Agustus 2008

Tanpamu...Aku Bisa Apa Sahabat?

Ira Yulisa...Kamu adalah pijarku. Tak lelah sinari aku. Dengan keikhlasanmu, jalinan persahabatan ini benar-benar tanpa pamrih. Temani aku tanpa pernah mengeluh. Mengerti dengan semua keluh. Diam dengan semua angkuh. Sabar melebihi sabarku. Tenang dengan semua tingkahku. Menerima semua egoisku. Tak miliki dendam dengan salahku. Aku bisa apa tanpamu sahabatku?

Aku bisa beri kamu apa? selama ini hanya ada keluhan,tingkah dan ulah yang kadang tak berpangkal ujung. Aku bisa beri kamu apa? hanya ada luka dan kadang kegelisaan tak berpangkal batas.Kadang mata hatiku seolah buta, dengan semua pijar yang kau tunjukkan. Tak pergi jauh kau dariku, tapi merayap nantinya sepiku itu. Pada siapa lagi sobat...aku bisa mengeluh, pada siapa lagi sobat...aku bisa meletakkan lelahku.

Kamu adalah tempatku mengadu.Setia dengar semua keluh kesahku. Siapa yang bisa kalahkan sabarmu,ikhlasmu,hatimu padaku. Kuselami samudera itu bertahun-tahun lamanya, tak tenggelam sungguh aku disana.Kamu selalu mengerti untuk hal-hal yang tak kupahami. Kamu adalah manja dan semua bingkai cerita penuh kasih. Bisa apa aku tanpamu?tak ada mereka yang bisa gantikan tempatmu, tak pernah ada sekuat apapun mereka mencoba!Mengherankan...Bagaimana mungkin, tak pernah sekalipun kamu menyakiti hatiku. Bagaimana mungkin, tak sedetikpun aku bosan bila bersamamu. Bagaimana mungkin, aku bisa korbankan waktu hanya untukmu dengan ikhlas. Semua kemustahilan, bersamamu dengan sendirinya berwujud kenyataan. Dan bagaimana mungkin, bisa kutemukan sosok sepertimu dikala kiamat semakin dekat, seperti saat ini. Saat semua kemunafikan berwujud dalam topeng kesetiaan, kamu adalah jawaban!Kucari yang bisa gantikan engkau,namun tak ada senyuman yang tanpa dendam itu dibibir mereka. Tak ada yang serenyah candamu, tawamu, teriakmu dan nada manjamu.

Siapa lagi nanti yang mau perhatian sama aku dengan apa adanya. Bukan ada apanya. Siapa lagi nanti yang akan menasehati aku dengan kata-kata tua. Bukan sok tua. Siapa lagi yang bisa mendengar keluhku tanpa lelah. Kau disana mencari asamu. Sedangkan aku disini dengan juangku...tanpa dirimu.Setiap hari, pastiku terbangun dengan berkata...apa mungkin aku bisa?Waktu pernah coba pisahkan kita, namun tulusmu tak bisa terlangkau jauh. Jarak pernah coba pisahkan kita, namun kekosongan yang sama, adalah tangis kita berdua. Kerinduan, kesepian, ketidaksempurnaan, adalah tembok sama yang membuat kita kembali...pulang!Tanpamu, aku bisa apa sobat. Siapa lagi yang akan kubawa tertawa dengan ikhlas dan tanpa beban. Tanpamu, aku bisa apa sobat. Siapa lagi yang akan kubawa bercanda tanpa sindiran,dendam,kebohongan dan kemunafikan. Kamu yang begitu tulusnya, adalah kamu yang apa adanya.

Kamu yang begitu apa adanya, adalah kesempurnaan yang hanya jadi milikku.Tak ada beban tampil didepanmu. Adalah kemerdekaan dari jajahan tatapan semu yang penuh kemunafikan. Mereka semua, tak pernah bisa lampaui ikhlasmu, tenangmu, tulusmu, apa adanya kamu..semua tentangmu,selama ini tak pernah menyakitiku...tak pernah sekalipun.Tak ada maaf untukmu, karena memang tak ada yang perlu dimaafkan. Berjuta pun ada salahku, kuyakin sudah kau musnahkan. Aku, kamu dan tanpa mereka...kita punya bintang sendiri yang tak mereka miliki. My Twinkle...biarkan itu jadi nyanyian kita berdua. Sampai nanti, sampai mati! Cukuplah kita saja yang mengerti...
20 Agustus, hari ini kuucapkan Happy Birthday My Best Friend...


Foto di Hari Wisuda Ira (Fakultas Perikanan Universitas Riau)..Congratulation!!!

Dia bukan yang pertama
Bukan pula yang terutama
Namun dengan semua kelembutannya
Kesabaran, Ketulusan, Perhatian
Aku dibuat terpekur lama
Ternyata ini yang namanya Persahabatan
Dan dialah yang pertama menggetarkanku
Ketika Memanggilku Twinkle (Bintang)...



Nama lengkapnya Ira Yulisa. Pertama kenal, saat sekelas di bangku SMU. Awalnya, kupanggil dia teman ''dibelakang bangku ku''. Lalu hitungan bulan, kupanggil dia ''teman mengerjakan tugas''. Bulan berikutnya, kupanggil dia ''teman tempat curhat''. Bulan demi bulan terus berlalu. Hingga kuputuskan memanggilnya...Sahabat!
Lebih singkat, gak ribet dan mudah dipahami.
Ditempat sekecil ini, tak cukup kutuliskan tentang siapa dan apa arti Ira bagiku. Karena untuknya, tidak bisa terangkai dalam kata-kata. Mungkin, ketidakmampuanku menuliskan tentang dia, bisa memberikan gambaran, bahwa dia tak bisa kubingkai dalam kalimat. Tentangnya...berarti tentang hatiku, tentang hidupku.
Ira adalah sahabat yang hingga sekarang setia menunggu air mataku terakhir berhenti mengalir. Ira adalah sahabat, yang tidak protes meski aku tertawa tidak bersamanya. Ira juga ibarat ''tong sampah'', yang ikhlas menerima semua keluh kesahku yang kadang tak bermutu. Ira adalah, sosok yang tak layak untuk kubingkai dalam kata-kata.
Hanya segelintir orang yang bisa memahami makna persahabatan. Dan Ira adalah bagian dari semua pembelajaran itu.
0

Baca Selengkapnya->

Rabu, 06 Agustus 2008

Humas-Wartawan, Jangan Terlalu Mesra


Terkadang, larangan ini bagi kita adalah diam. Namun tak jarang bagi kita pertanda perang. Jurnalis yang pantang menyerah, akan tetap berjuang. Selagi masih ada lubang semut, ya jadi semut buat dapat berita. Kalau tidak bisa dengan cara halus, ya wartawan terpaksa jadi mahluk halus lah. Wartawan tetap memegang teguh etika selagi tidak ada yang melanggar hak mereka untuk dapatkan berita bagi masyarakat.
MENARIK sekali posting di milis jurnalisme, sampai-sampai membuat saya harus membaginya di sini. Selama ini, hubungan antara humas sebuah instansi atau perusahaan dan wartawan memang seperti tabu untuk dibahas. Seperti dalam posting itu, hubungan keduanya bersifat simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Namun sejauh mana sebaiknya kemesraan dibina?
Sebelumnya, mohon maaf buat Bang Kiki (Kabag Humas Pemprov Riau..tulisan ini semoga tidak mengganggu kemesraan kita selama ini hahahaha..buat rekan-rekan wartawan yang bertugas di kantor Gubernur Riau-Pemprov Riau, tulisan ini cuman buat jaga-jaga. Andai kita tak lagi jadi WPR...hahahahaha)

HUBUNGAN antara pejabat (praktisi) hubungan masyarakat (humas) dengan
wartawan (biasa pula disebut pers), bagaikan hubungan dua orang teman atau
mitra yang saling memerlukan. Hubungan kedua orang yang bermitra tersebut
bersifat simbiosis mutualisme (saling membutuhkan). Hubungan mereka saling
bergantung (interdependen). Mereka benar-benar saling membutuhkan. Dengan
demikian, tak satu pihak pun yang boleh menganggap dirinya lebih tinggi dan
penting daripada mitranya. Posisi kedua mitra tersebut setara (sama tinggi,
sama rendah), namun peran atau fungsi, motif dan tujuan kegiatan
masing-masing saling berbeda.

Ada masanya wartawan bisa bersabar, tapi jangan sangka wartawan mahluk beriman seutuhnya. Yang bisa sabar, baik hati, tidak sombong rajin menabung dan lain-lain, tidak!!! Demo yang dilakukan wartawan kali ini, adalah puncak kekecewaan ketika akses jurnalis dibatasi oleh aparat keamanan ketika meliput kunjungan Menteri Kehutanan beberapa waktu lalu. Apa yang kau sembunyikan wahai pejabat negara??? Yang penting, akhirnya Kabag Humas Polda Riau minta maaf..ceks..ceks..salut buat rekan-rekan yang demo. Jadi bingung mau buat berita dengan judul apa..hahahaha

Humas di lingkungan lembaga pemerintahan daerah, baik lembaga eksekutif
maupun legislatif (DPRD), bekerja atas nama dan untuk rakyat atau masyarakat
daerah setempat. Mereka bekerja berdasarkan mandat masyarakat. Oleh karena
itu, mereka yang bekerja di pemda dan DPRD wajib melaksanakan isi mandat
masyarakat yang diembankan ke atas pundak mereka. Mereka wajib melayani dan
memenuhi kebutuhan masyarakat atau membantu masyarakat dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat yang niscaya sangat beragam.

Demikian pula halnya dengan wartawan. Mereka bekerja berdasarkan mandat
masyarakat. Ada dua hal pokok isi mandat masyarakat yang diembankan kepada
lembaga pers, yang diaktualisasikan wartawan, yakni hak tahu dan hak
memberitahukan. Wartawan wajib mewujudkan isi kedua hak masyarakat tersebut.
Nah, salah satu sumber atau narasumber yang sangat penting yang menjadi
mitra kerja wartawan pastilah humas pemda dan humas DPRD. Untuk mewujudkan
hak tahu masyarakat, wartawan harus tekun dan gigih mencari fakta-fakta
(informasi) penting yang dibutuhkan masyarakat di daerah yang bersangkutan.
Agar ini dapat diwujudkan wartawan, humas sebagai mitranya harus selalu siap
menjawab pertanyaan dan memenuhi permintaan wartawan akan fakta-fakta
penting yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat daerah, yang pasti
sangat beraneka.

Ini berarti humas dan wartawan sesungguhnya sama, yakni sama-sama abdi
(pelayan) masyarakat. Bedanya, humas yang umumnya berstatus PNS, pastilah
digaji negara melalui lembaga pemerintahan, sedangkan wartawan yang umumnya
berstatus pegawai swasta, pastilah digaji perusahaan di mana mereka bekerja.
Meskipun status dan jenis instansinya berbeda, namun kedua mitra ini harus
benar-benar mampu bekerja sama dengan baik dalam posisi dan sikap saling
menghormati dan menghargai mitra masing-masing.

*5 kiat penting *

Nah, agar hubungan kemitraan ini dapat berjalan dengan baik dan tujuan
mereka dapat diwujudkan secara optimal, yakni melayani dan memenuhi
kebutuhan masyarakat dengan sebaik-baiknya, maka ada beberapa hal yang
sangat penting dilakukan tiap pejabat atau praktisi humas di lingkungan
pemda dan DPRD di Tanah Air.

Pertama, hubungan humas dengan wartawan bersifat profesional. Selain
melayani masyarakat, humas wajib melayani wartawan secara profesional. Humas
jangan berhubungan terlalu mesra dengan wartawan. Kedua belah pihak,
terutama masyarakat yang mereka layani, pasti rugi bila tak ada jarak yang
pas antara humas dengan wartawan. Sebagai ilustrasi, dua sejoli yang saling
merapatkan wajah (baca: berciuman) pastilah tak mampu melihat wajah
pasangannya dengan cermat karena jarak pandangnya tidak pas. Mata
tidak/kurang difungsikan, yang berfungsi hanya perasaan (emosi). Celakanya,
bila suatu ketika personel humas berselisih atau bertengkar dengan mitra
mesranya (wartawan). Maka akibat buruknya tak saja merugikan kedua belah
pihak, tapi terutama merugikan masyarakat yang mereka layani, di samping
niscaya merugikan lembaga masing-masing. Tanpa mengurangi hubungan mesra,
humas harus senantiasa berinisiatif menjaga jarak yang pas dengan mitra
sejajarnya (wartawan). Hubungan kedua belah pihak harus sehat, terhormat,
dan bermartabat.

Di mata wartawan humas harus berwibawa, wibawa yang alamiah, bukan sok
berwibawa atau wibawa yang dibuat-buat agar disegani wartawan. Humas yang
profesional pastilah cerdas, berpengetahuan sangat luas (terpelajar),
disiplin, dan benar-benar menguasai bidang pekerjaannya. Ia juga sanggup
menganalisis dengan tajam tiap berita di media massa yang menyangkut daerah,
instansi, dan para pejabat pemda/DPRD yang bersangkutan. Dengan demikian,
humas mampu memberikan masukan yang baik terhadap para pengambil keputusan
di instansi di mana ia bekerja. Humas yang benar-benar mampu bekerja secara
profesional, termasuk menjaga jarak yang pas dengan mitranya, pastilah
dhormati, disegani, dan dipercayai wartawan.

Kedua, humas harus mengetahui seluk-beluk dunia wartawan atau jurnalisme,
termasuk irama kerja wartawan di tiap jenis media massa serta fungsi media
massa. Ini berarti humas mesti tahu nilai-nilai berita, tenggat waktu
laporan wartawan, peta media massa baik di tingkat daerah maupun di tingkat
nasional, Kode Etik Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran,
Undang-undang No. 40/1999 tentang Pers, Undang-undang No. 32/2002 tentang
penyiaran, kekuasaan atau kekuatan media massa, visi dan missi media massa
yang beredar/beroperasi di wilayahnya, dan sebagainya.

Ketiga, humas juga harus/perlu memiliki kemampuan praktik jurnalisme, yakni
meliput, wawancara, memotret, menulis berita langsung, berita khas (feature
news), dan artikel opini. Selain memperkaya pengetahuan dan praktik melalui
bacaan dan pelatihan jurnalisme, humas juga perlu sekali-sekali magang di
media massa, terutama di media massa besar.

Jangan sangka, jadi wartawan Gubernur itu enak man...Kemana langkah kaki R-1 pergi, disitulah wartawan selalu jadi bayangannya. Ke laut yang dalam, kehutan yang seram, ke gunung yang tinggi dan panasnya bara api hehehehe...berlebihan kali ya (SUmpah, tu gedung tinggi buanget. Tapi asyik juga, jadi seperti mendaki gunung di Pekanbaru). Tapi yang jelas, semua perjalanan liputan, ada yang ikhlas menemani, ada juga yang setengah hati hanya karena takut gak bisa setor berita kekantor. Apapun itu, Humas Pemprov harus tanggungjawab hahahaha..

Keempat, humas harus mampu mengenal wartawan dan redaktur secara personal.
Ini sangat penting, agar humas mampu berkomunikasi dengan efektif dengan
mitranya. Humas harus tahu tingkat/jenis komunikasi yang lazim digunakan
wartawan yang sedang berbicara dengannya. Sesuai latar belakang budaya
daerah dan tingkat pendidikan, tiap wartawan pastilah memiliki gaya
berkomunikasi masing-masing. Ada wartawan yang lazim menerapkan komunikasi
konteks rendah (menyatakan sesuatu secara halus atau “berputar-putar”, tak
langsung ke tujuan). Tapi ada pula wartawan yang biasa menerapkan komunikasi
konteks tinggi (berbicara blak-blakan atau berterus terang, langsung ke
tujuan). Humas harus mampu berbahasa dengan baik sesuai bahasa dan tingkat
bahasa (abstraksi) wartawan yang sedang dihadapi. Humas perlu tahu pula
riwayat hidup wartawan yang biasa atau rutin meliput di lingkungan kerja
pemda dan DPRD, misalnya tanggal lahir/perkawinan. Humas juga perlu
memerhatikan ulang tahun media massa yang beredar/beroperasi di daerahnya.
Dengan demikian, humas dapat menjalin hubungan insani (human relations)
secara efektif dengan mitranya.

Kelima, humas jangan bersikap diskriminatif terhadap wartawan/media massa.
Semua wartawan profesional (muda atau tua, kaya atau miskin, berpenampilan
keren atau “kumuh”) dan media massa (besar atau kecil, lokal atau nasional,
baru atau lama, partisan atau independen) harus diperlakukan dengan adil
(tak ada “anak emas” dan “anak tiri”). Hal terpenting, humas wajib melayani
hanya wartawan yang benar-benar wartawan. Humas tak perlu melayani, apalagi
“memiara” wartawan “CNN” (cuma nanya-nanya) alias wartawan yang tak memiliki
media massa. Yang dimaksud melayani di sini adalah memberikan fakta-fakta
atau informasi penting yang dibutuhkan oleh khalayak media massa di mana
wartawan yang bersangkutan bekerja. Ini berarti humas tak boleh merusak
idealisme atau profesi wartawan dengan memberikan uang atau yang sejenisnya.
Humas sama sekali tak berurusan dengan pemenuhan kesejahteraan wartawan. Ini
adalah urusan pihak manajemen perusahaan media massa di mana wartawan itu
bekerja.

Inilah kiat utama humas menghadapi wartawan (pers). Bila kelima hal pokok
ini dapat diwujudkan dengan baik, niscaya humas sanggup bekerja secara
efektif dan efisien dalam melayani masyarakat di wilayah Jabar. Selamat
bekerja secara profesional! Tuhan memberkati Anda! *(penulis adalah dosen
jurnalistik fikom unpad)***

Baca Selengkapnya->

Selasa, 05 Agustus 2008

Mitos dan Realitas Profesi Wartawan


Kamera tak pernah bisa dipisahkan dari profesi wartawan. Dari balik lensa kecil ini, bisa terbuka semua fakta dunia. Hanya satu klik saja, lensa kecil ini bisa bicara dan tampilkan kejujuran mengalahkan jutaan kata-kata kebohongan
Memiliki profesi 'kuli tinta' memang tidak mudah tapi sebenarnya cukup menyenangkan karena memiliki banyak relasi. Bagi beberapa kalangan yang kurang memahami profesi ini akan beranggapan bahwa menjadi seorang wartawan tidak menguntungkan dan tidak memiliki masa depan yang cerah.
Selama ini masyarakat awam hanya mengetahui bahwa sosok wartawan dibatasi oleh sebagai penulis berita dan sumber gosip. Padahal sosok wartawan hanya bisa diselami melalui pergaulan dengan para pelakunya sendiri. Sehingga banyak mitos yang mengungkapkan tentang profesi 'kuli tinta' ini. Tidak ada salahnya anda simak beberapa mitos dibawah ini tentang wartawan dan kenyataan yang sebenarnya.


Wartawan sering dikatakan sosok yang menakutkan. Biasanya orang yang takut pada wartawan adalah ‘public figure’ atau lembaga perusahaan yang memiliki kasus jelek, sehingga mereka khawatir jika kasusnya ‘terendus’ wartawan bisa mencemarkan dan menjatuhkan nama baiknya. Memang tidak bisa dipungkiri kalau selama ini ada beberapa oknum yang membuat wartawan ditakuti oleh narasumber. Tetapi pada kenyataannya, banyak wartawan yang menjunjung kode etik jurnalistik. Kini wartawan sudah lebih santun dalam menghadapi sumber dan menuangkan berita. Bahkan tidak sedikit wartawan yang terus menjalin hubungan baik dengan narasumbernya.

Wartawan bisa menulis apa saja. Salah satu hal yang menyebabkan wartawan menjadi sosok yang menakutkan adalah karena wartawan dianggap bisa menulis apa saja yang didengar dan dilihatnya. Pada kenyataannya, dengan mengacu pada kaidah dan kode etik jurnalistik wartawan tidak bisa seenaknya menuliskan berita. Untuk menurunkan sebuah berita, terutama yang menyangkut informasi suatu kasus, wartawan harus mengkonfirmasikan kebenaran informasi tersebut pada sumber yang dapat dipercaya. Jika berita yang ditulisnya melenceng dari fakta yang sebenarnya, bisa menjatuhkan kredibilitas wartawan dan media yang bersangkutan.

Wartawan selalu minta amplop. Anggapan seperti ini adalah mitos yang paling populer di masyarakat. Wartawan dianggap selalu meminta sejumlah uang pada setiap sumber yang diwawancarainya. Wartawan juga selalu mengharapkan amplop dari panitia liputan acara. Memang ada sebagian wartawan yang bermental demikian, tapi tentu saja tidak bisa ‘dipukul rata’. Di masa sekarang, dengan semakin meningkatnya tingkat kemapanan media massa, praktek meminta ‘amplop’ pada sumber berita sudah bukan jamannya lagi.

Wartawan selalu urakan. Selama ini wartawan memang identik dengan busana kumal, mengenakan jaket atau rompi, menenteng kamera dan rambut acak-acakan. Memang ada beberapa wartawan yang berpenampilan seperti itu, tetapi semua itu disesuaikan dengan kondisi. Apabila mereka harus meliput berita tentang kebanjiran atau kebakaran, pasti akan terlihat aneh jika harus mengenakan sepatu yang mengkilap dan busana stelan trendy. Kini wartawan yang rata-rata berpendidikan tinggi, apalagi bekerja di media yang cukup terkenal, pasti akan membedakan mana penampilan yang cocok untuk di lapangan dan mana penampilan di acara-acara resmi. Penampilan mereka belakangan inipun terlihat lebih rapi dan intelek.

Mitos mengatakan bahwa wartawan manusia sakti. Wartawan disebut manusia sakti karena selama ini wartawan terkesan mudah dalam menembus rumitnya birokrasi, seperti melenggang masuk saat menghadiri pertunjukkan musik, hiburan, bahkan menonton film terbaru di bioskop. Padahal sebetulnya, wartawan itu tidaklah sakti. Mereka bisa melenggang masuk ke tempat-tempat yang semestinya ‘bayar’, karena para wartawan sudah mengurus ID card atau tanda masuk untuk menjalankan tugas. Tanpa ID card, wartawan pun tidak diijinkan masuk, sama halnya dengan orang yang tidak membeli karcis.

Ada mitos yang mengatakan bahwa wartawan bekerja 24 jam. Selama ini wartawan dianggap tidak memiliki jam kerja yang jelas dan harus siap ditugaskan kapan saja. Karena itu banyak yang menganggap wartawan bekerja selama 24 jam penuh. Padahal wartawan juga manusia biasa yang butuh istirahat. Jika urusannya sudah selesai wartawan bisa pulang ke rumah dan istirahat dengan tenang. Tetapi memang, jika mendekati ‘deadline’ wartawan harus siap memenuhi deadline meskipun harus bekerja sampai larut malam.

Beragam mitos yang beredar tentang profesi wartawan maka menunjukkan keunikannya. Sehingga profesi ini semakin diminati oleh kalangan muda yang dinamis dan kritis.Bagi ada yang memiliki minat besar dan kualitas di bidang ini, sebenarnya tidak sulit untuk mengembangkan karir di dunia ini. Apalagi banyak peluang kompetisi yang luas dan sehat bagi anda yang memang ingin menggelutinya secara serius. Jadi jangan pernah menganggap bahwa profesi wartawan tidak bisa diandalkan untuk masa depan, karena dari dunia kerja ini, anda bisa memiliki networking yang cukup luas. Tetapi semua itu bisa anda raih dengan keuletan dan kegigihan dalam menjalaninya. Semoga berhasil.(Ini pesan yang baik dari sahabat jurnalis di sebuah sisi lain bumi pertiwi ini...thanks u...)

Baca Selengkapnya->

Senin, 04 Agustus 2008

Dia Panggil Aku Bintang...


Foto di Hari Wisuda Ira (Fakultas Perikanan Universitas Riau)..Congratulation!!!

Dia bukan yang pertama
Bukan pula yang terutama
Namun dengan semua kelembutannya
Kesabaran, Ketulusan, Perhatian
Aku dibuat terpekur lama
Ternyata ini yang namanya Persahabatan
Dan dialah yang pertama menggetarkanku
Ketika Memanggilku Twinkle (Bintang)...


Nama lengkapnya Ira Yulisa. Pertama kenal, saat sekelas di bangku SMU. Awalnya, kupanggil dia teman ''dibelakang bangku ku''. Lalu hitungan bulan, kupanggil dia ''teman mengerjakan tugas''. Bulan berikutnya, kupanggil dia ''teman tempat curhat''. Bulan demi bulan terus berlalu. Hingga kuputuskan memanggilnya...Sahabat!
Lebih singkat, gak ribet dan mudah dipahami.
Ditempat sekecil ini, tak cukup kutuliskan tentang siapa dan apa arti Ira bagiku. Karena untuknya, tidak bisa terangkai dalam kata-kata. Mungkin, ketidakmampuanku menuliskan tentang dia, bisa memberikan gambaran, bahwa dia tak bisa kubingkai dalam kalimat. Tentangnya...berarti tentang hatiku, tentang hidupku.
Ira adalah sahabat yang hingga sekarang setia menunggu air mataku terakhir berhenti mengalir. Ira adalah sahabat, yang tidak protes meski aku tertawa tidak bersamanya. Ira juga ibarat ''tong sampah'', yang ikhlas menerima semua keluh kesahku yang kadang tak bermutu. Ira adalah, sosok yang tak layak untuk kubingkai dalam kata-kata.
Hanya segelintir orang yang bisa memahami makna persahabatan. Dan Ira adalah bagian dari semua pembelajaran itu.

Baca Selengkapnya->