Aku jarang bisa memiliki waktu luang menulis untuk intropeksi diriku sendiri. Mungkin karena kesibukan kerja, kuliah dan kesibukan yang kucari-cari sendiri. Kadang setelah berlalunya waktu, terselip sedikit rasa sesal dan kesal: mengapa hari ini berlalu biasa-biasa saja. Padahal hidup hanya sekali dan aku tidak menghargai hadiah yang diberikan tuhan kepadaku setiap hari.
Setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Setiap manusia pasti pernah berbuat jahat. Tapi sebaik-baiknya manusia yang pernah buat salah dan berbuat jahat, adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kejahatannya. Aku tidak mau diumpamakan keledai, yang akan jatuh pada lubang yang sama, untuk kesekian kalinya.
Karena itu, aku selalu cari-cari kebodohan apa yang sudah aku buat hari ini. Meminta ampun pada tuhan dalam setiap sujud yang masih mampu aku lakukan. Sambil menyesali dan kadang menangisi, betapa bodohnya aku, betapa cerobohnya aku, betapa tidak tahu malu-nya aku. Hidup hanya sekali dan aku terlalu sombong bisa meyakini, bahwa aku akan hidup lagi esok hari.
Aku mengenal tentang pahala dan dosa sedari kecil, tapi aku menyia-nyiakan usia hingga umur ku beranjak menuju tua. Suatu ketika, ada moment dimana aku mendengarkan bait kata-kata dari seseorang yang tidak kukenal, yang seolah menampar mukaku berkali-kali tanpa ampun. Aku pun tersadar…Ya Allah…apa yang sudah aku lewatkan dalam hidup yang hanya sekali ini?!?
Dikatakan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah diberikan umur yang panjang dan umur yang bermanfaat. Ada empat golongan manusia yang hidup didunia ini:
Golongan pertama: Mereka diberikan Ilmu yang luas dan Hidup yang bermanfaat. Golongan pertama ini sebaik-baiknya manusia. Karena dengan ilmu yang dikaruniai Allah swt padanya, mereka memiliki keimanan. Digunakannya untuk melakukan Amal Makruf Nahi Mungkar. Dengan kelimpahan rezeki yang dikaruniai Allah swt padanya, dinafkahinya anak yatim, di jaganya fakir miskin. Disisihkannya harta yang dikarunia Allah swt sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai seorang hamba. Sungguh, merekalah orang-orang yang beruntung.(Aku iri…sering aku jumpai orang-orang yang diberkahi Allah swt seperti golongan yang pertama ini)
Golongan kedua: Mereka diberikan Ilmu tapi tidak diberikan Harta. Mereka ini memiliki keyakinan bahwa Allah swt adalah pemilik seisi alam. Mereka memiliki keyakinan bahwa hidup, mati, rezeki dan jodoh tiap manusia sudah ada yang mengatur. Mereka percaya dan beriman, tapi mereka tidak dikaruniai harta yang berlimpah, tidak hidup nyaman dan berkecukupan. Namun demikian mereka selalu tenang dengan rasa syukur terhadap rezeki dan takdir Allah swt.
Golongan Ketiga: Mereka diberikan Harta tapi tidak diberikan Ilmu. Mereka ini memiliki kekayaan, tapi kekayaan itu dihimpun dari hidup menipu, memakan harta yang tidak halal, mengumpulkan harta dari jalan yang tidak di ridhoi Allah swt. Dengan harta yang mereka miliki, mereka sombong, mereka kufurkan karunia Allah swt bahkan cenderung menyombongkan diri. Mereka inilah, yang hidup dalam kemewahan dunia, tapi jiwa mereka merasakan kekosongan. Kosong karena tidak memiliki pegangan dalam hidupnya. Mereka yang tidak memiliki keimanan didalam hatinya, akan selalu mencari-cari siapa tuhannya. Semua emas berlian dunia bisa mereka dapatkan untuk kesenangan dan menyenangkan diri mereka. Tapi untuk akhirat, mereka tidak punya keyakinan.
Golongan Keempat: Mereka tidak diberikan harta, tidak pula diberikan ilmu. Hidup melarat di dunia, tidak punya agama, tidak punya tuhan dan tidak juga punya segenggam beras untuk sekedar makan sehari dan esok hari. Inilah orang-orang yang benar-benar merugi.(Naudzubillahi min Dzalik…jangan sampai kita termasuk orang-orang seperti ini).
Dari empat ini, aku bertanya-tanya, dimanakah letak takdirku? Dimana pula letak langkahku? Aku menuju kepadamu ya Allah swt…maka terangilah jalanku dan beri aku keimanan dan kesabaran membuka hati mencintaimu dengan tulus dan penuh kerinduan. Maka jangan pernah tinggalkan aku sedetikpun, saat aku berada di kegelapan. Maka jangan pernah acuhkan aku, saat aku berada dalam kebimbangan. Menuju dan mencari Ridhomu…itu aku, saat ini dan semoga esok hari, esok harinya lagi, dan lagi dan lagi….***
Keterangan foto:
Jika ada waktu luang ditengah kesibukan, aku selalu meluangkan waktu bercumbu dengan mahakarya Allah swt. Air, Tanah, Udara dan Laut. Sungai, Danau, Pantai dan Gunung. Yang menenangkan dan menyenangkan adalah kunjungan utamaku.
Bila semuanya tak bisa aku dapatkan, maka berada didepan laptop ditemani dengan segelas kopi, menjadi rutinitasku. Kamar kos adalah tempat favoritku. Kamar yang memberiku inspirasi, dalam kesendirianku selama ini.
Bila tetap tak tenang juga, ku ambil selimut hijau hadiah ultah dari sahabatku dan ku pejamkan mata sambil ucapkan syukur kepada Allah swt atas segala nikmatnya hari ini…selanjutnya tidur!
Rabu, 04 Februari 2009
Hidup Hanya Sekali…Hargailah!
Jumat, 30 Januari 2009
Jangan Ramai!!!
Pernah aku ditanya, mau ke mall atau pergi ketengah hutan belantara??? Aku tak perlu memikirkan jawabannya dalam hitungan menit, karena dalam hitungan detik saja aku sudah bisa tentukan pilihan: Jangan suguhkan aku keramaian!!!
Meleburkan diri bersama alam, aku seperti terhakimi dari semua kesombongan. Terfekur dan tersadar betapa banyak salah dan dosa yang telah aku lakukan. Dengan merenungkan dan menjauhkan diri dari keramaian, aku lebih merasa tenang. Menyelami apa yang selama ini telah aku sia-sia kan dalam hidup yang hanya sekali...
Allah swt. berfirman, “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” [QS. Al-Hijr (15): 19-20]
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak Beriman.” [QS. Asy-Syu'ara (26): 7-8]
Aku dibuat kerdil oleh bentangan Alam..dan aku selalu rindu merasa kerdil didepan tuhan. Agar aku tidak menjadi orang yang sombong...
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” [QS. Al-Mulk (67): 15]
Aku mencintai bentangan alam ciptaan Allah swt...karna aku sadar ada maksud Allah swt menciptakan aku untuk bersahabat dengan maha karyanya ini...
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” [QS. Al-Anbiya (21): 107].
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” [QS. Ar-Rum (30): 41-42].
YA ALLAH...AKU MOHON DENGAN SANGAT...JADIKAN AKU SELALU RINDU KEPADAMU...
Minggu, 11 Januari 2009
Betapa Cemburunya Aku Padamu…
Hari ini, aku buat berita kriminal dengan kronolis kejadian seperti ini:
Wati (30) seorang pedagang buah keliling di Pekanbaru, terpaksa harus menggadaikan STNK sepeda motor milik Linda (34), tetangganya. Wati menggadaikan STNK tanpa sepengetahuan Linda sebesar Rp 100 ribu. Wati terpaksa nekat menggadaikan barang yang bukan haknya itu, untuk biaya berobat anaknya yang sedang sakit demam.
Sudah tiga hari, putra kesayangan Wati yang baru berumur tiga tahun, terbaring lemah di rumah kontrakan mereka yang masih nunggak dua bulan. Akibat perbuatannya ini, Linda melaporkan Wati ke polisi. Wati pun di gelandang polisi dengan jeratan pasal 372 KUHP yang mengatur tentang pidana penggelapan, ancaman kurungan empat tahun penjara.
Demi Rp 100 ribu untuk biaya berobat anaknya, Wati kini berstatus tersangka.’’Saya benar-benar tak punya uang, untuk bawa anak saya berobat,’’ ujar Wati dengan suara pelan saat ditemui di ruang tahanan tak beralas sehelai tikar.
Ya Allah..betapa durhakanya aku padamu. Betapa aku sangat kufur terhadap berjuta nikmat yang telah engkau berikan kepadaku. Setiap hari, aku yang menghitung lembaran rupiah yang terus menipis, mengapa aku justru menyalahkanmu tidak adil. Saat ku melewati rumah mewah orang-orang kaya, mengapa aku selalu menyalahkanmu tidak sayang padaku.
Demi Rp 100 ribu, aku memang tidak seperti Wati yang harus membayarnya dengan mendekam di penjara. Tapi demi Rp 100 ribu, aku pernah menuduhmu tidak memperdulikanku, aku membencimu, aku menganggap engkau pilih kasih, aku meragukan keagunganmu, aku menangis untuk engkau yang tidak aku yakini. Betapa durhakanya aku…hingga lupa berjuta nikmat yang telah engkau persembahkan kepadaku. Tiap hari, tiap waktu, tiap detik hidupku…
''Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.'' (QS An Naml [27]: 40). Tidaklah Allah SWT akan berkurang kemuliaan-Nya hanya karena penduduk bumi ini tidak bersyukur kepada-Nya. Tidak pula akan bertambah tinggi kemuliaan-Nya karena seluruh penduduk bumi ini bersyukur kepada-Nya. Kemuliaan Allah SWT tidak bergantung kepada kita hamba-Nya yang lemah.
''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS An Nahl [16]: 18).
Ya Allah..
Andai tangan ini tidak berjari, bagaimana aku bisa bekerja demi mengganjal perut dari rasa lapar. Bagaimana aku bisa bertemu dengan orang-orang yang menatap tanganku. Bagaimana aku menyuapkan nasi. Bagaimana aku merasakan panasnya air yang akan diminum. Baru dari secuil jari, betapa kufurnya aku terhadap engkau ya rabbi…
Tak ada lagi malam dengan bersujud kepadamu, mengapa aku begitu marahnya padamu. Tak ada lagi doa yang khusyuk berurai air mata, mengapa aku begitu cemburunya terhadap kasih sayangmu. Harusnya aku ikhlas mengantri dikasihi. Harusnya aku rela menanti disayangi. Karena engkaulah sang maha pengasih dan penyayang. Tak akan habis kasihmu itu dan tak akan terkikis sayangmu itu. Mengapa aku tiba-tiba menjadi umatmu yang kufur nikmat???
Kemarin-kemarin, aku berada di kondisi yang sulit. Lahir batin seolah tak punya lagi semangat hidup. Engkau tuntun lagi aku pulang. Engkau arahkan jalan yang benar kepadaku. Engkau nyenyak-kan tidurku. Engkau biaskan noda dan dosa yang aku punya. Engkau sejajarkan kehormatan ku dengan orang-orang yang engkau berkahi. Tapi kenapa dengan aku yang menggangapmu menduakan aku? Kenapa dengan aku yang tak pernah berterimakasih padamu? Ya Rabbi…betapa kufur nikmatnya aku.
Hari ini..terbuka mata hatiku. Seiring dengan itu, luluh pula angkuh ku. Takluk aku pada kebesaranmu. Berdesir hatiku pada perlindunganmu. Betapa dalam langkah dan setiap keputusanku. Engkau selalu ada ya rabbi…Selalu ada.
Maka ku mohon, kuatkanlah aku yang selalu mendurhakan diri. Maafkan aku yang terkadang tak tahu diri. Sungguh betapa aku mencintaimu ya Allah swt…dan betapa cemburunya aku pada kasih sayangmu. Aku cemburu…sangat cemburu…***
Kamis, 21 Agustus 2008
Horee..Si Miskin Merajut Mimpi...
Kunanti dengan hati berdegup kencang. Menanti kertas putih itu sampai ditanganku, hatiku makin berdegup kencang. Kubuka pelan, seiring doa, agar tulisan disana tak membuat air mata ayah dan bunda dikampung halaman mengalir sedih. Perlahan kubuka helaian kertas itu…Horeeeee….nilaiku tak mengecewakan. Subhana Allah…Subhana Allah…Alhamdulillah…Si Miskin ini ternyata masih punya nyawa merangkai mimpi…
Melanjutkan kuliah di Strata Dua (S2), mungkin hanya satu dari berjuta impianku. Masih ku ingat jelas, saat kunekat mendaftarkan diri di Universitas Riau (Unri). Waktu itu sebagian gajiku habis dalam sekejap. Tak ada lagi rupiah untuk kukirim ke tangan bunda tercinta.
‘’Kamulah penerus impian keluarga ini nak, lanjutkan…lanjutkan…kami hanya bisa berikan doa,’’ kata Ibuku dari seberang telepon, saat ku kabari aku mendaftar kuliah lagi. Dalam sesak tangisnya yang kudengar tertahan, bundaku yang mulai menua itu, memaafkan aku dengan tulus, tak kirimkan rupiah bulan ini.
Aku terdaftar pada program Pasca Sarjana Ilmu Politik jurusan Manajemen Pemerintahan Daerah, Universitas Riau, tahun ajaran 2007. Dengan uang semester jutaan dan biaya diktat yang mencapai ratusan ribu setiap bulannya, jelas ini langkah nekat mendekati bunuh diri. Aku baru mulai menapak karir, itupun belum pasti terang. Aku masih punya tanggungan tiga adik-adik yang masih harus dibiayai. Aku punya orangtua, yang jauh merasakan hidup surga dunia. Di Pekanbaru, tempatku menapak karir, aku masih ngontrak rumah, kadang telat bayar listrik. Awalnya, aku memang ragu, darimana aku bisa dapat rezeki? Namun sebuah hadist , yang jadi peganganku setelah Al-Quran, mampu merubahku jadi mahluk nekat:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu dari rumah-rumah Allah, selain mereka membaca Kitabullah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmah, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang berlambat-lambat dalam amalannya, niscaya tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)
Ada yang bilang, dengan usia belum genap 22 tahun, aku terlalu cepat melanjutkan kuliah lagi. Bahkan ada yang bilang, aku terlalu berandai-andai dalam hidup, bisa-bisa justru tenggelam suatu hari nanti. Entahlah, terlalu banyak memang godaan itu, terlalu banyak sindiran dan pandangan sinis. Semua menggoda, terlebih godaan dari kemampuan finansialku sendiri. Tapi apa boleh buat, inilah jalanku. Inilah pilihanku. Inilah takdirku.
Sesungguhnya, kulanjutkan kuliah dengan beberapa pertimbangan: Pertama, aku percaya, Allah swt tidak akan pernah berdusta. Hanya dengan ilmu lah, aku rajut mimpi bisa mengangkat derajat orangtua dan keluarga ku suatu hari kelak, didunia ataupun diakhirat.“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu doa anak yang saleh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim). Aku bisa beri apa bagi ibu dan ayahku didunia? Mau tak mau, hadist ini aku pegang teguh dalam setiap doa dan usahaku.
Lagipula…bukankah Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Bahkan Allah swt sendiri lewat Al Qur’an meninggikan orang-orang yang berilmu dibanding orang-orang awam beberapa derajad.
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)
Pada surat Ali ‘Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan dirinya, lalu dengan malaikatnya, dan kemudian dengan orang-orang yang berilmu. Jelas kalau Allah menghargai orang-orang yang berilmu. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)” (Ali Imran:18)
Allah swt juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia. “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)
Allah swt, juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur’an. “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat2 yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (Al Ankabut:49)
Nabi Muhammad mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu . “ Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitu sabdanya. “Tuntutlah ilmu dari sejak lahir hingga sampai ke liang lahat.”
Dengan semua inilah, aku semangat mendaftarkan diri kuliah lagi. Semangat dan ikhlas pontang panting mencari uang untuk ‘’bernafas’’ dibangku kuliah yang makin mahal. Aku sering menahan lapar dikampus, saat teman-temanku yang rata-rata PNS dan pejabat, asyik duduk di cafĂ© kampus. Aku sering telat bayar uang administrasi kelas, bahkan terlalu sering dibayari oleh teman-teman yang berbaik hati (kalau tidak merasa kasihan, aku tak perduli hehehe yang penting bayar!). AKu bahkan pernah kuliah dengan uang disaku hanya Rp 1.000. Terkadang aku hanya tertawa sendiri, ternyata betapa luasnya rezeki dan pertolongan Allah swt untuk aku…sang pencari ilmu!
Dan alasan ku yang kedua , berani melanjutkan kuliah lagi adalah, agar adik-adikku punya semangat. Aku tak minta mereka meniruku, namun aku berharap mereka mau merajut mimpi yang sama seperti aku.
Keluarga kami terlalu miskin, hingga sekedar bermimpi saja sudah mulai sulit untuk dilakukan. Ibuku yang hanya pedagang kecil, dan papa yang tak bekerja sejak aku dibangku sekolah dasar, sempat menjadi pembunuh impian kami menjadi ‘’orang kaya raya di dunia’’. Namun, dengan keyakinan Allah swt selalu bersama umatnya yang taat, satu persatu impian kami rajut jadi kenyataan. Kami pun mulai memimpikan ‘’Kaya Raya didunia dan kaya raya diakhirat’’.
Aku bersyukur, saat ini dua foto ‘’Sang Sarjana’’ terpampang di dinding kayu rumahku yang mulai reyot. Foto aku dan abangku. Sebuah mimpi bisa kuliah di pulau seberang (Jawa), adalah kemuliaan nyata yang Allah swt berikan bagi para penuntut ilmu sesuai janjinya. Manalah mungkin rasanya, anak seorang pemilik kantin sekolah dikota kecil bernama Siak Sri Indrapura, bisa kuliah di pulau Jawa??? Tapi kami bisa! Dan kini, tidak satupun adik-adikku yang tidak punya mimpi yang sama. Aku bersyukur..Mencari Ilmu menjadi nafas keluargaku.
Dibalik kuasa Allah swt, aku selalu tak berhenti bersyukur. Dengan tangannya yang mulai berkerut, ibuku tak pernah berhenti berusaha dan bekerja. Dengan badan nya yang mulai bungkuk, dan giginya yang mulai rontok, ayahku tak pernah berhenti membantu ibu mengumpulkan rupiah demi rupiah. Bangun pagi usai sholat Subuh, ibu dan papa tak pernah berhenti bekerja. Hingga malam menjelang, dan kantukku tak bisa dilawan, aku masih ingat, papa terkantuk-kantuk memotong ubi kayu untuk dibuat keripik. Ibu dengan wajah lelah masih menggoreng semua bumbu gulai untuk dijual besok.Ya Rabbi…kapan aku bisa mengajak tubuh-tubuh renta itu hidup senang di surga dunia…Semoga dengan Ilmu aku bisa berikan itu…
Lembaran kertas putih itu makin aku genggam erat. Ada tetes air mata yang tak tertahankan. Hanya ada wajah papa dan ibu, yang tersenyum. Terbayang wajah manis menutupi uban-uban dirambut mereka. AKu ingat perkataan ibuku terakhir saat aku pulang ke Siak. ‘’Nak, kalau saja Kamu dan Irfan (Abangku) sudah kerja mapan, ibu dan papa mau istirahat. Agak capek juga badan ini,’’. Sebagai anak, aku bisa beri apa? Sebagai anak aku bisa beri apa? Sebagai anak aku bisa beri apa? Semoga lembaran kertas putih ini, bisa member sedikit senyum dan menghapus lelah diwajah mereka.
IPK 3,50, tertera tulisan diselembar kertas putih itu. Itulah nilaiku pada semester pertama kuliahku di S2, tadi siang baru sampai ditanganku. Berita yang belum sempat ku kabari kekampung halaman, karena Hp ku lagi tak berpulsa, hanyalah secuil kado yang bisa kuberikan pada papa dan ibu bulan ini, bukan rupiah.
Dua nilai A dan dua nilai B, adalah anugerah dari pontang pantingku. Ada dua tangis saat ini. Tangis bahagia, kuliah dan kerjaku bisa berjalan seiring. Lalu ada tangis ketakutan…takut bila semester depan mimpi kedua orangtuaku terpupus musnah, habis! Biaya kuliah yang nilainya dua kali harga motor bututku, darimana bisa aku dapatkan? Aku harus pontang panting lagi..demi mencari Ridho Allah swt, demi mimpi orangtuaku, dan demi menyemangati adik-adikku yang sedang berjuang. Si Miskin ini akan terus berjuang…meski didepan entah godaan apa yang akan datang.
Rabu, 20 Agustus 2008
Aku, Diriku, Hanya Aku....
Ada yang bilang, aku sosok yang sombong, uhh..tau apa sih mereka tentang aku! Ada juga yang bilang, wajahku seperti orang judes, wah yang ini kebangetan banget. Padahal seumur-umur, hal yang paling aku takuti adalah menyakiti hati orang. Andai saja mereka mau sedikit memahami dan belajar, bahwa tampilan luar tidak akan pernah sama dengan tampilan didalam. Lebih baik jangan sok tau, kalau benar-benar tak pernah mau tahu!!!!
Foto Bersama sahabat-sahabat Kantor...rekan-rekan kerja berjiwa muda...Semangat!!!
Ama Ratna Mahendra..my best friend di kantor dan diruang khusus hua..haha..haha..tanya Ratna..masak sih aku dibilang sombong say...
Menanti Bintang Jatuh or jodoh yang gak sengaja jatuh dari langit...
Nih dia yang namanya Dara Fitria...ehmmmmm...aku nulis khusus aja buat dia..gak cukup disini....maaf..
Waktu di Bandung nih...nyuri waktu ''narsis-narsisan'' diwaktu liputan bareng Gubernur Riau HM Rusli Zainal. Acara Satu Abad Kebangkitan Nasional di Kementrian Pemuda Dan Olahraga Jakarta...